Dalam hati dan pikiran semua pasti ada sesuatu yang diprioritaskan
apakah itu keluarga, karir atau apa saja
semua yang kita lakukan terbaik dalam setiap hari adalah jalan untuk mencapai dan mempertahankan believe kita
apakah Anda sudah yakin dan pasti tentang apa yang harus kamu kejar dalam kehidupan yang singkat ini ?
Pada suatu kesempatan, beberapa karyawan di suatu perusahaan saling sharing tentang pandangan hidup mereka, salah satu diantaranya merasa bahwa dia baru bisa bahagia kalau sudah kaya, sedang yang satunaya lagi merasa dia bahagia dengan apa adanya… Menurut Anda siapa yang benar ? Tentu saja Anda akan menjawab orang kedua yang benar.
Namun, pada kenyataannya, berapa persen orang yang tidak bisa atau tidak cukup bahagia karena keterbatasan ekonomi mereka ? Karena tekanan ekonomi membuat mereka tidak tahu harus bagaimana … Saya adalah salah seorang diantaranya… beberapa waktu yang lalu.
Saya memang dilahirkan di keluarga yang sederhana, sejak SMP sudah menyadari bahwa kondisi perekonomian keluarga tidak seperti orang lain, waktu itu teman-teman pada punya motor, kami cuman punya sepeda… Soal uang jajan juga, dan masih banyak yang lain. Kami memang serba berkecukupan. Terlebih ketika Papa kehilangan pekerjaaan, kakak perempuan saya yang usianya 4 tahun diatas saya dari begitu tamat SMU merantau ke Jakarta untuk terjun di masyarakat, dan otomatis ikut menjadi tulang punggung keluarga.
Masih ingat dengan sangat jelas di ingatan saya, waktu itu kakak saya telepon bilang dia senang banget uda gajian, dan yang menarik perhatian saya adalah sebagian besar gaji dia langsung dikirim ke keluargaku di kampung,,, karena adik-adik masih pada sekolah, termasuk saya… Ga jelas apakah waktu itu saya denger dari mana, dengar kakak saya bilang, “Gaji pertama ini cuman lewat di tangan saya aja,,, belon hangat nih,,,” Saya mengerti perasaan itu. Sangat mengerti.
Dan waktu terus berjalan sampai saya juga ikut tamat,,, sesudah tamat saya semakin menyadari kerasnya kehidupan yang dijalanin kakak saya, sampai-sampai dia divonis sakit hipertiroid dan sempat berobat dalam kurun waktu yang cukup lama…. Dari situ, begitu saya mendapat pekerjaan, saya bersumpah dalam hati saya bahwa tanggung jawab keluarga adalah tanggung jawabku. Kakak saya sudah banyak berkorban, dan itu semua sudah cukup…
Tapi, kenyataanya, sekarang saya masih dibantu adik saya yang perempuan untuk dukungan biaya ekonomi keluarga tiap bulan. Dalam hati saya sering menangis… menangis bukan demi diriku, demi keluargaku.
Saya rela dan siap berkorban semenjak awal,,, karena apapun yang kuperjuangkan akan kudahulukan kepentingan keluarga, dan saya bersedia menerima konsekuensinya,
Harapan saya dalam waktu yang tidak terlalu lama,,, keluarga saya di daerah bisa pindah semua ke Jakarta agar bisa berkumpul bareng
~ Semoga kami bisa mempunyai rumah sendiri di Jakarta
~ Semoga kami tidak lagi direpotkan tekanan beban ekonomi, sehingga keluarga saya bisa meluangkan waktu mereka untuk hoby dan kesukaan mereka tanpa beban
~ Semoga adik saya ada kesempatan belajar nari ,,,, dan apa pun yang mereka suka
Saya harus bertanggung jawab atas komitmen yang sudah saya buat